Keadaan Memaksa (Overmacht)

Thursday, May 10th, 2018 - Hukum Perikatan

Keadaan memaksa (overmacht ) adalah suatu keadaan yang terjadi setelah di buatnya persetujuan ,yang menghalamgi debitur untuk memenuhi prestasinya,dimana debitur tidak dapat di persalahkan dan tidaka harus menanggung resiko serta tuidak menduga pada persetujuan di buat.kesemua itu sebelum debitur lalai untuk  memenuhi prestasinya pada saat timbulnya keadaan tersebut .

Keadaaan memaksa menghentikan bekerjanya perikatan dan menimbulkan berbagai akibat yaitu :

  • debitur tidak lagi dapat meminta penuhan prestasi .
  • debitur tidak dapat lagi dinyatakan lalai dan karenanya tidak wajib membayar ganti rugi.
  • resiko tidak beralih kepada debitur
  • kreditur tidak dapat menuntut pembatalan pada persetujuan timbale balik.

mengenai definisi keadaan memaksa tersebut perlu di uraikan lebih lanjut  :

  • keadaan yang menimbulkan keadaan memaksa tersebut harus terjadi setelah di buatnya persetujuan karena jika pelaksanaan prestasinya sudah tidak mungkin sejak di buatnya persetujuan, maka persetujanntersebut batal demi hukum di sebabkan objeknya tidak ada atau tanpa causa.
  • keadaan memaksa yang menghalangi pemenuhan prestasi harus mengenai prestasinya Kita tidak dapat berbicara tentang keadaan memaksa, jika karena keadan yang  terjadi kemudian misalnya : kenaikan harga prestasi masing-masing pihak menjadi tidak seimbang lagi. Sedangkan prestasinya sendiri yaitu menyerahkan barangnya tidak terhalang untuk dilaksanakan persoalan disini bukan menyangkut leadaan memaksa,akantetapi menyangkut hal lain yaitu sampai sejauh manakah dalah suatu prsetujuan timbale balik masing-masing pihak berdasarkan kepatutan dan itikad baik masih berkewajiban  untuk memenuhi prestasinya ,jiak prestasi tersebut terganggu keseimbangannya sebagai akibat dari pada keadaan yang tidak dapat di duga. Demikian juga dalam jual beli yang di tentukan menrut jenisnya misalnya beras, tidak menghalangi debitur untuk memenuhi prestasi selam jenis barang itu masih dapat di peroleh . belainan halnya jika yang di jual adalah barang yang berada di gudang, sedangkan gudangnya musnah .keadaan yang menghalangi pemenuhan prestasi itu ada ,tidak hanya jika setiap orang sama sekali tidak mungkin mememnuhi prestasinyapun jika debitur sendiri yang bersangkutan tidak mungkin atau sangat berat untuk memenuhi prestasinya .penentuannya harus didasarkan kepada masing-masing kasus.
  • debitur yang tidak dapat menyerahkan barangnya karena di curi, tidak dapat dinyatakan bersalah ,jika ia telah berusaha sebaik-baiknya untuk menyimpan barang tersebut, kesalalahan ada pada debitur ,jika debitur sepatutnya menghindari peristiwa yang yang menghalangi debitur untuk memenuhi prestasinya. Misalnya barang tersebut di curi dari mobil debitur yang tidak di kunci.
  • debitur tidak harus menanggung risiko berarti debitur baik berdasarkan undang-undang ,persetujuan mauopun menurut pandangan berlaku dalam lau lintas masyarakat, tidak harus menanggung risiko.
  • debitur tidak dapat menduga akan terjadi peristiwa yang menghalangi pemenuhan prestasi pada waktu perikatan di buat.

Macam-macam keadaan memaksa

Dalam sejarah pemikiran tentang keadaan memaksa ada 2 aliran atau ajaran.

  1. ajaran objektif atau absolute

menurut ajaran keadaan memaksa objektif,debitur berada dalam keadaan memaksa ,apabila pemenuhan prestasinya itu tidak mungkin (ada unsure impossbelitas ) dilaksanakan oleh siapapun juga atau oleh setiap orang. Mis : A harus menyerahkan kuda kepada B, di tengah jalan di sambar petir, hingga oleh siapapun juga penyerahan kuda itu tidak mungkin dilksanakan.

  1. ajaran yang subyektif atau relative

menurut ajaran keadaan memaksa subyektif (relative ) keadaan memaksa itu ada , apabila debitur masih mungkin melaksanakan prestasi tetapi, praktis dengan kesukaran atau pengorbanan yang besar (ada unsure diffikultas ) sehingga dalam keadaan yang sedemikian itu kreditur tidak dapat menuntut pelaksanaan prestasi. Mis : seorang penyanyi yang berjanji untuk mengadakan pertunjukan . sebelum pertunjukan di adakan .ia mendengar berita tentang katian anaknya hingga sukar bagi debitur untuk melaksanakan perjanjian