Landas kontinen

Wednesday, May 9th, 2018 - Hukum Internasional

 

Topografi laut atau gambaran laut secara geologis terdiri dari :

  1. “The continental margin”, dasar laut yang berbatasan dengan dunia atau “continent”, yang mencakup:
  • “continental shelf” (landas kontinen), yaitu wilayah dasar laut yang berbatasan dengan benua atau pulau-pulau yang turun kebawah secara bertahap yang diukur dari garis air rendah sampai kedalaman mencapai 130 meter.
  • “continental slope”, yaitu wilayah dasar laut yang berbatasan dengan “continental shelf” yang mempunyai kemiringan yang lebih curam, yang menurun sampai sekitar kedalaman 1500-3500 meter.
  • “continental rise”, yaitu bagian dasar laut yang berbatasan dengan “continental slope” menurun dari kedalaman 3500 meter sampai 5500 meter.
  1. “Abyssal plains” atau dasar laut dalam yang tidak lagi merupakan bagian dari “continent”, meliputi kawasan di luar “continental margin”. Pada bagian-bagian tertentu didasar laut dalam ini terdapat lembah-lembah yang dalam dan curam (“trennch”) yang pada bagian lainnya dari dasar laut dalam ini terdapat dasar laut yang bergunung-gunung atau “mountain ranges”

Di banyak tempat yang berada di “continental margin”, terutama di landas kontinen kaya akan kekayaan alam. Terutama diantaranya banyak terdapat minyak bumi dan gas alam. Hampir 90% produksi sumberdaya mineral berasal dari dasar laut. Sebelum Perang Dunia II eksploitasi akan minyak dan gas sanagatlah rendah, tapi setalah Perang Dunia II dan seiring kemajuan teknologi di bidang pertambangan semakin memudahkan eksplorasi & eksploitasi di dasar laut akan sumber daya mineral. Penemuan-penemuan lokasi terdapatnya sumber daya mineral di landas kontinen di berbagai belahan dunia semakin memperpenting landas kontinen.

Karena keberadaan landas kontinen yang mempunyai nilai penting semua negara, maka diperlukan suatu kelegalan akan status hukum dataran kontinen. Perlu adanya suatu aturan dalam hukum internasional yang relevan untuk determinasi status landas kontinen.

 

Status Hukum Landas kontinen

Pembagian laut atas dua bagian, yaitu laut teritorial yang berasa di bawah kedaulatan Negara pantai dan laut lepas yang bersifat bebas berlaku cukup lama dan mendapat perumusan dalam Konvensi Den Haag 1930. Pembagian ini dianggap sebagai rekaman dari Hukum Kebiasaan pada waktu itu. Tetapi keadaan berubah sesudah Perang Dunia ke II. Diantara faktor penyebab perubahan itu, yaitu bertambah bergantungnya masyarakat bangsa-bangsa pada laut sebagai sumber kekayaan alam baik hayati maupun non hayati seperti mineral minyak dan gas bumi, serta kemungkinan pengambil didukung dengan kemajuan teknologi di bidang kelautan. Alasan demikian itu telah mendorong terjadinya tindakan sepihak dari negara-negara untuk melindungi, memelihara dan mencadangkan sumber kekayaan alamnya tidak saja di laut teritorialnya, tetapi juga menghendaki hak berdaulat yang lebih luas lagi, yaitu di laut lepas yang berada di luar yurisdiksinya dan berbatasan dengan laut teritorialnya. Tindakan sepihak negara-negara ini mengakibatkan perubahan-perubahan dalam ketentuan hukum laut yang terbentuk sebelum perang dan merupakan kejadian atau peristiwa yang mempunyai pengaruh yang jauh dan mendalam serta merupakan kejadian yang cukup penting dalam sejarah perkembangan hukum laut internasional. Sebenarnya di dalam sejarah hukum laut sudah ada preseden daripada penguasaan atau pengambilan kekayaan alam dari dasar laut, seperti penambangan batubara di Selat Inggris (English Channell) di Cornwall dan pengambilan mutiara dari dasar laut dekat pantai Ceylon dan di teluk Persia yang di dasarkan atas hukum kebiasaan yang berlaku sejak dahulu kala. Lain daripada itu perjanjian antara Venezuela dan Inggris tahun 1942 yang membagi dasar laut yang terletak antara Venezuela dan Trinidad dan Tabago di luar laut teritorial Inggris dan Venezuela.

Salah satu di antara peristiwa penting yang mempunyai pengaruh yang jauh dan mendalam terhadap perkembangan hukum laut masa kini adalah tindakan sepihak Amerika Serikat yang dinyatakan dalam Proklamasi Truman 1945 tentang “Continental Shelf” dan Perikanan. Kedua Proklamasi Truman ini merupakan tindakan sepihak Amerika Serikat dalam perluasan yurisdiksi atas laut lepas yang berbatasan dengan pantai Amerika Serikat untuk tujuan pemanfaatan kekayaan alamnya.

Adapun landasan teori yang dikemukakan Amerika Serikat untuk mengambil tindakan tersebut, karena “continental shelf” dapat dianggap sebagai kelanjutan alamiah (“natural prolongation”) daripada wilayah daratan Amerika Serikat dan bagaimanapun usaha-usaha untuk mengolah kekayaan yang terkandung di dalamnya memerlukan kerjasama dan perlindungan dari pantai, dan berada di bawah yurisdiksi dan kontrolnya. Pada waktu itu Presiden Truman belum lagi menentukan kriteria apa yang dinamakan dengan “continental shelf” tersebut, tapi menegaskan Amerika Serikat tidak menuntut “continental shelf” sebagai wilayah Amerika Serikat, melainkan hanya menuntut kekayaan alamnya, dan status perairan di atasnya tetap sebagai laut lepas. Selang beberapa tahun banyak Negara mengklaim landas kontinennya masing-masing. Pada Konferinsi Genewa tahun 1958 sebanyak 20 negara pantai menyepakatilandas kontinen pada umumnya. Konferensi landas kontinen ini menyepakati bahwa status hukum landas kontinen yaitu bahwa setiap Negara hanya mempunyai hak untuk berdaulat untuk mengekspolarasi dan mengeksplotasi kekeyaan alamnya di landas kotinen. Konsepsi landas kontinen adalah suatu konsep yang banyak dipermasalahkan dalam Konperensi Hukum Laut PBB III, terutama dengan diajukannya konsepsi ZEE 200 meter telah menimbulkan perbedaan pendapat antara kelompok-kelompok peserta.

Batas Landas Kontinen

Proklamasi Tuman tidak secara jelas menjelaskan berapa mil batas landas kontinen (memorandum  dari departemen hukum mengenai batas landas kontinen sekitar 600 kaki di dasar laut). pasal 1 Konvensi Hukum Laut 1958 tentang Landas Kontinen dapat diambil kesimpulan, yang dimaksud dengan landas kontinen pada pokoknya mencakup dasar laut dan tanah di bawahnya yang berdekatan dengan pantai yang merupakan bagian terluar dari laut teritorial sampai kedalaman 200 meter atau di luar batas itu untuk tujuan eksploitasi sumber daya alam dasar laut dan tanah di bawahnya yang berdekatan dengan pantai pulau-pulau. Amerika Serikat mengusulkan landas kontinen dibatasi sampai kedalaman 200 meter, dan kepada negara pantai dipercayakan untuk mengurus kekayaan alam di landas kontinen sampai ke “margin” dengan kewajiban membayar semacam konstribusi melalui “Internasio Authority” yang akan didirikan. Konsepsi landas kontinen adalah suatu konsep yang banyak dipermasalahkan dalam Konperensi Hukum Laut PBB III, terutama dengan diajukannya konsepsi ZEE 200 meter telah menimbulkan perbedaan pendapat antara kelompok-kelompok peserta. Banyak diantara negara-negara Afrika berpendapat, jika konsepsi ZEE diterima dalam Konperensi, maka pada dasarnya konsepsi landas kontinen tidak dipertahankan lagi, karena dasar laut yang dinamakan landas kontinen telah tercakup dalam ZEE yang memberikan hak kepada negara pantai untuk tujuan eksplorasi dan eksploitasi sumber kekayaan alam di dasar laut dan tanah di bawahnya. Dengan diterimanya konsepsi ZEE dengan sendirinya batas landas kontinen minimum 200 mil dari garis pangkal laut teritorial. Beberapa negara termasuk Inggris, Amerika Serikat dan Uni Soviet yang mempunyai margin yang luas enggan untuk melepaskan klaim-klaim atas sumber kekayaan alam di bagian “margin” yang paling luar ( di luar 200 mil). Sedangkan negara-negara yang mempunyai margin yang sempit yang kurang 200 mil bersepakat mengenai batas 200 mil tersebut.

Dalam Konvensi Hukum Laut 1982, pengaturan mengenai landas kontinen dimuat dalam BAB VI, pasal 76 sampai dengan pasal 85. Sedangkan pengertian landas kontinen perumusannya dimuat secara lengkap dalam pasal 76 yang menyatakan sebagai berikut :

“ Landas Kontinen suatu negara pantai meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya dari daerah di bawah permukaan laut yang terletak di luar laut teritorialnya sepan kelanjutan alamiah wilayah daratannya hingga pinggiran luar tepian kontinen, atau hingga suatu jarak 200 mil laut dari garis pangkal darimana lebar laut teritorial diukur, dalam hal pinggiran tepian kontinen tidak mencapai jarak tersebut”. Penentuan titik tetap batas terluar tepian kontinen tidak boleh melebihi 350 mil laut dari garis pangkal laut teritorial dan tidak boleh melebihi 100 mil laut dari garis batas kedalaman (“isobath”) 2500 meter. Meskipun penetapan garis batas terluar tepian kontinen tidak boleh melebihi 350 mil laut lepas dari garis pangkal laut teritorial, ketentuan ini tidak berlaku lagi bagi elevasi dasar laut yang merupakan bagian-bagian alamiah tepian kontinen, seperti pelataran (“plateau”), tanjakan (“rise”), puncak (“caps”), ketinggian yang datar (“banks”) dan puncak gunung yang bulat (“spurs”)nya (pasal 76 ayat 6).

Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas menurut ketentuan Konvensi Hukum Laut 1982 untuk mengukur lebar landas kontinen dapat ditentukan dengan beberapa alternatif, yaitu :

  1. sampai batas terluar tepian kontinen (“the continental margin”)
  2. sampai jarak 200 mil laut dari garis pangkal laut teritorial apabila tepian kontinen tidak melebihi 200 mil laut;
  3. sampai jarak 350 mil laut dari garis pangkal laut teritorial apabila tepian kontinen melebihi 200 mil laut, atau
  4. tidak boleh melebihi 100 mil laut dari garis kedalaman (“isobath”) 2500 meter.