TUJUAN ETIKA DALAM PANDANGAN FILSAFAT

Friday, May 4th, 2018 - Etika Profesi
  1. ARTI FILSAFAT

Thoe Huijebers (1995) menjelaskan, filsafat adalah kegiatan intelelektual yang metodis dan sistematis, secara refleksi menangkap makna yang hakiki keseluruhan yang dengan objeknya yang universal.

Menurut Sumaryono (1995) filsafat merupakan ilmu yang berfungsi sebagai interpretasi tentang hidup manusia, tugasnya meneliti dan menentukan semua makna konkret sampai ada yang paling mendasar. Dengan ciri khasnya yang selalu menimbulkan pertanyaan baru dalam menjawab pertanyaan.

Dari pengertian-pengertian di atas, maka unsur-unsur penting filsafat sebagai ilmu sbb:

  • Pemikiran (kegiatan intelektual);
  • Interprestasi (mencari makna yang hakiki);
  • Objek (segala fakta dan gejala);
  • Metode (refleksi, metodis dan sistematis)
  • Tujuan (untuk kebahagiaan manusia).
  1. Etika Bagian dari Filsafat

Penyelidikan etika sama dengan filsafat, yaitu berpangkal pada perbuatan baik dan benar. Oleh karena itu Etika adalah filsafat moral yang merupakan bagian dari filsafat. Sumaryono mengemukakan alasan-alasan Etika sebagai bagian dari filsafat sbb:

  • Etika adalah studi tentang perbuatan baik dan buruk, benar dan salah berdasarkan kodrat manusia yang di wujudkan dalam kehendaknya;
  • Etika adalah tentang kehendak manusia dalam mengambil keputusan untuk berbuat, yang mendasari nilai-nilai hubungan antara sesame manusia;
  • Etika adalah studi tentang pengembangan niali moral untuk memungkinkan terciptanya kebebasan kehendak karena kesadaran, tanpa paksaan;
  • Etika adalah studi tentang nilai-nilai manusiawi yang berupaya menunjukan nilai-nilai kehidupan yang benar secara manusiawi kepada setiap orang.
  1. Etika Sebagai Ilmu Pengetahuan

 Etika adalah filsafat moral dan ilmu pengetahuan yang membahas moral secara ilmiah dengan objek telaahnya berupa kumpulan gejala tentang moral. Perlu dipisahkan antara Etka dan moral. Etika adalah ilmu pengetahuan dan moral adalah objek ilmu pengetahuan. De Vos (1987) menyatakan etika sebagai ilmu pengetahuan tentang moral dan moral itu sendiri merupakan keseluruhan aturan, kaidah, atau hukum yang berbentuk perintah dan larangan yang mengatur perilaku manusia dan masyarakat di mana manusia itu berada. Moral berciri dengan mengandalkan kesadaran manusia. Manusia yang memenuhi syarat-syarat moral, perilakunya dan dia sendiri dianggap baik. Sebaliknya, apabila tidak memenuhi syarat-syarat moral, perilakunya dan dia sendiri disebut buruk.

  1. Etika Deskriptif dan Normatif

 Sebagai ilmu pengetahuan, Etika terbagi menjadi Etika deskriptif dan Etika Normatif. Etika deskriptif berkenaan dengan gejala-gejala moral yang dapat dilukiskan dan dijelaskan secara ilmiah. Gejala-gejala moral tersebut dijelaskan dengan menyelidiki pendirian-pendirian mengenai baik dan buruk, manakah norma-norma moral yang pernah berlaku (sejarah moral) dan dengan mencari makna moral dari gejala-gejala moral dengan melukiskan moral sebagai mana adanya (fenomenologi moral).

Etika normatif berkenaan dengan sifat hakiki moral bahwa di dalam perilaku dan tanggapan moral, manusia menjadikan norma-norma moral sebagai panutannya. Yang dilihat hanya fakta, bukan benar tidaknya norma. Etika normatif menetapkan bahwa manusia hanya menggunakan norma0norma sebagai panutan, tetapi tidak menanggapi ukuran kelayakan moral. Norma-noram tertentu tidak hanya sebagai fakta, tetapi layak dank arena itu berlaku sah.

  1. ETIKA TUJUAN

Perbuatan manusia di dalamnya ada sumber perbuatan mengenai kecendrungan batin yang baik atau buruk dan tujuan perbuatan mengenai sesuatu yang diharapkan timbul setelah dilakukan perbuatan itu.

Menurut De Vos (1987) Etika Tujuan adalah etika yang memandang objek pertimbangan moral bukan sumber perbuatan melainkan tujuan perbuatan. Etika Tujuan banyak dianut dalam berbagai bentuk, sesuai pertanyaan setiap manusia, apakah yang menjadi tujuan hidupku yang sebenarnya?

Apakah untuk mencapai kebahagian, membuat orang lain bahagia, menyempurnakan diri sendiri, meningkatkan kesejahteraan umum, mengembangkan kepribadian ataukah untuk hal-hal lain?

Ada berbagai tujuan yang hendak aku capai namun apakah ada tujuan tertinggi yang mencakup serta mengatasi tujuan-tujuan lain?

Maka dari itu manusia mempertanyakan makna hidup, denngan kata lain mempertanyakan juga tujuan hidup. Hasrat ini didasarkan kepada kenyataan yang lebih mendasar, yaitu manusia yang dalam kebulatannya merupakan objek pertimbangan moral adalah makhluk yang melakukan perbuatan yang merupakan usaha yang mengarah untuk mencapai tujuan. Tujuan bersifat menentukan sifat usaha yang dapat menyingkapkan sifat manusia. Keadaan moral seseorang berdasarkan tujuan yang hendak dicapainya, sehingga objek pertimbangan moral ialah tujuan yang walaupun akibatnya dapat dipertimbangkan juga tentangkeadaan seseorang.

Ada hubungan erat antara tujuan dengan kecendrungan batin yang harus diperhatikan oleh pertimbangan moral. Tujuan terjadi karena kecendrungan batin dan tujuan menentukan kecendrungan batin. Kecendrungan batin harus diutamakan dengan pemahaman yang luas. Tujuan dapat mempengaruhi kecendrungan batin, sepert pendapat Goethe: “manusia menjadi dewasa karena tujuannya yang semakin tinggi”. Kecendrungan batin tetap yang utama, agar bisa merencanakan tujuan. Secara logis manusia lebih dahulu adanya daripada tujuannya.

Norma-norma moral menentukan tujuan yang baik, sehingga kelihatannya tujuan lebih mudah dipertimbangkan daripada kecendrungan batin. Kelihatannya seseorang hendak mencapai tujuan tertentu, tetapi ternyata semu belaka. Pada kenyataanya, yang hendak dicapai adalah sesuatu yang lain sama sekali. Ada pertimbangan yang lain, norma-norma yang menentukan pertimbangan moral dan perilaku tidak mengatakan lebih dahulu apa yang harus dituju, melainkan apa yang harus diperbuat, kecendrungan batin apa yang harus dipunyai seseorang.

  1. ETIKA DAN TUJUAN HIDUP

 Setiap manusia ingin hidup bahagia. Untuk mencapainya manusia bekerja keras dengan menggunakan segala jenis sarana, sehingga ukuran kebahagian tidak sama antara manusia yang satu dengan yang lain. Misalnya manusia merasa bahagia apabiala:

  • Cukup sandang, pangan, rumah;
  • Cukup sandang, pangan, rumah, pendidikan;
  • Cukup sandang, pangan, rumah, pendidikan, pekerjaan;
  • Cukup sandang, pangan, rumah, pendidikan, pekerjaan, hiburan;
  • Cukup sandang, pangan, rumah, pendidikan, pekerjaan, hiburan, kepuasan seksual;
  • Keberhasilan usaha atau profesi dalam hidup

Maka ada manusia yang mencapai kebahagiaan jasmani karena terpenuhi kebutuhan ekonomi, ada juga yang mencapai kebahagiaan rohani karena terpenuhi kebutuhan psikhis, dan ada manusia yang mencaoai kebahagian jasmani dan rohaninkarena terpenuhi kebutuhan ekonomi, psikhis, dan biologis sekaligus walaupun dalam keadaan tidak berimbang. Idealnya apabila kebahagiaan jasmani dan rohani tercapai secara berimbang baik dari subjeknya (manusia) maupun objeknya (kebutuhan). Akan tetapi kebahagian yang dicapai manusia merupakan kebahagiaan semu (relatif), bukan kebahagian sempurna. Kebahagian terbagi  menjadi kebahagiaan relatif  dan kebahagiaan sempurna. Kebahagiaan relatif adalah kebahagiaan yang hanya dapat memuaskan manusia secara individual dengan segala kelemahannya. Kebahagiaan sempurna adalah kebahagiaan yang dapat memuaskan manusia pada umumnya, semua pihak atau anggota dalam kelompok masyarakat, baik jasmani maupun rohani dari dunia sampai ke akhirat, sehingga menjadi tujuan akhir manusia. Etika membahas kebahagiaan sempurna melalui kebenaran filosofis yang menjadi penopang segala sistem etika.

Kebenaran filosofis penopang sistem etika adalah Tuhan, kehendak dan tujuan. Tuhan sebagai pencipta manusia, menjadi tujuan akhir perjuangan manusia, tuhan memberikan hukum mutlak, hukum moral yang dapat menuntun apa yang harus dilakukan, sehingga memberikan kebahagiaan tertinggi dan menjadi hakim Yang Maha Agung. Tuhan adalah sumber Etika yang mengharuskan manusia berbuat baik sesuai dengan tuntunan-Nya. Manusia berkehendak memilih antara yang baik dan yang buruk serta bertanggungjawab atas pilihannya itu. Kebebasan berkehendak mengarahkan manusia untuk berbuat baik dan benar dalam hidupnya. Jiwa manusia sebagai roh yang hidup sesudah kematian manusia juga mendorong manusia untuk berbuat baik dan benar. Pada saat mengalami kesulitan hidup, manusia tetap berbuat baik dan benar karena bermakna bahwa setelah mati rohnya hidup abadi dalam kebaikan dan kebenaran.