Pengertian dan Pembagian Hukum Waris Dalam Islam

Thursday, May 3rd, 2018 - Hukum Waris, Hukum Waris Islam

 

 

 

 

 

 

Hukum waris dalam AI-Qur’an

Dalam menguraikan prinsip-prinsip hukum waris berdasarkan hukum Islam, satu-satunya sumber tertinggi dalam kaitan ini adalah AI-Qur’an dan sebagai pelengkap yang menjabarkannya adalah Sunnah Rasul beserta hasil-hasil ijtihad atau upaya para ahli hukum Islam terkemuka. Berkaitan dengan hal tersebut, di bawah ini akan diuraikan beberapa ayat suci AI­Qur’an yang merupakan sendi utama pengaturan warisan dalam Islam. Ayat-ayat tersebut secara langsung menegaskan perihal pembagian harta warisan di dalam AI-Qur’an, masing-masing tercantum dalam surat An­Nissa (QS. IV), surat AI-Baqarah (QS. II), dan terdapat pula pada dalam surat AI-Ahzab (QS. XXXIII).

Ayat-ayat suci yang berisi ketentuan hukum waris dalam AI-Qur’an, sebagian besar terdapat dalam surat An Nisaa (QS. IV) di antaranya sebagai berikut:

  1. IV: 7; “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta sepeninggalan Ibu-Bapak, dan kerabatnya, dan bagi wanita ada pula dari harta peninggalan Ibu-Bapak, dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah di tetapkan.” Dalam ayat ini secara tegas Allah menyebutkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan merupakan ahli waris.
  2. IV: 1 1; “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, yaitu; bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan;z2 dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua,23 maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempun yai beberapa saudara, maka ibunya mendapatseperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah diba yar hutangnya. Tentang orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”Dari ayat ini dapat diketahui tentang bagian anak, bagian ibu dan bapa, di samping itu juga diatur tentang wasiat dan hutang pewaris.
  3. IV: 12; “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. /ika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang­hutangmu…… Di dalam ayat ini juga ditentukan secara tegas mengenai bagian duda serta bagian janda.
  4. IV: 33; “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu-bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris­pewarisnya.”Z4 Secara rinci dalam ayat 1 1 dan 12 surat An-Nisaa di atas, Allah menentukan ahli waris yang mendapat harta peninggalan dari ibu-bapaknya, ahli waris yang mendapat peninggalan dari saudara seperjanjian. Selanjutnya Allah memerintahkan agar pembagian itu dilaksanakan.
  5. IV: 176; “…Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan la tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri atas) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”Ayat ini be rkaitan dengan masalah pusaka atau harta peninggalan kalalah, yaitu seorang yang meninggal dunia tanpa meninggalkan ayah dan juga anak.

 

  1. Warisan dalam Sistem Hukum Waris Islam

Sistem Hukum Waris Islam

Hazairin dalam bukunya Hukum Kewarisan Bilateral MenurutAl-Qur’an mengemukakan bahwa “sistem kewarisan Islam adalah sitem individual bilateral”.” Dikatakan demikian, atas dasar ayat-ayat kewarisan dalam AI-Qur’an antara lain seperti yang tercantum masing-masing dalam surat An-Nissa (QS. IV) ayat 7, 8, 11, 12, 33 dan ayat 176 serta setelah sistem kewarisan atau sistem hukum waris menurut AI-Qur’an yang individual bilateral itu dibandingkan dengan sistem hukum waris indi­vidual bilateral dalam masyarakat yang bilateral. Hazairin juga mengemukakan beberapa hal baru yang merupakan ciri atau spesifikasi sistem hukum waris Islam menurut AI-Qur’an, yaitu sebagai berikut:

  1. Anak-anak si pewaris bersama-sama dengan orang tua si pewaris serentak sebagai ahli waris. Sedangkan dalam sistem hukum waris di IuarAl-Qur’an hal itu tidak mungkin sebab orang tua baru mungkin menjadi ahli waris jika pewaris meninggal dunia tanpa keturunan; mati punah.
  2. Jika meninggal dunia tanpa keturunan maka ada kemungkinan saudara-saudara pewaris bertindak bersama-sama sebagai ahli waris dengan orang tuanya, setidak-tidaknya dengan ibunya. Prinsip di atas maksudnya ialah jika orang tua pewaris, dapat berkonkurensi dengan anak-anak pewaris, apabila dengan saudara-saudaranya yang sederajat lebih jauh dari anak-anaknya. Menurut sistem hukum waris di luar AI-Qur’an hal tersebut tidak mungkin sebab saudara si pewaris tertutup haknya oleh orang tuanya.
  3. Bahwa suami-isteri saling mewaris; Artinya, pihak yang hidup pa­ling lama menjadi ahli waris dari pihak lainnya.

Sistem kewarisan Islam menurut AI-Qur’an sesungguhnya merupakan perbaikan dan perubahan dari prinsip-prinsip hukum waris yang berlaku di negeri Arab sebelum Islam, dengan sistem kekeluargaannya yang patri lineal. Pada dasarnya sebelum Islam telah dikenal tiga prinsip pokok dalam hukum waris, yaitu:

  • Anggota keluarga yang berhak mewaris pertama adalah kaum kerabat laki-laki dari pihak bapak yang terdekat atau disebut ashabah;
  • Pihak perempuan dan anggota keluarga dari garis ibu, tidak mempunyai hak waris;
  • Keturunannya yaitu anak, cucu, canggah, pada dasarnya lebih berhak mewaris dari pada leluhur pewaris, yaitu, ayah, kakak, maupun buyutnya.

Setelah Islam datang, AI-Qur’an membawa perubahan dan perbaikan terhadap ketiga prinsip di atas sehingga pokok-pokok hukum waris Islam dalam AI-Qur’an sebagaimana ditentukan dalam surat An-Nisaa ayat­ayat tersebut di atas.

 

  1. Ahli Waris Dalam Islam

Ahli wari’s adalah seseorang atau beberapa orang yang berhak mendapat bagian dari harta peninggalan. Secara garis besar golongan ahli waris di dalam Islam dapat dibedakan ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu:

  1. Ahli waris menurut AI-Qur’an atau yang sudah di tentukan di dalam AI-Qur’an disebut dzul faraa’idh.
  2. Ahli waris yang ditarik dari garis ayah, disebut
  3. Ahli waris menurut garis ibu, disebut dzul arhaam.

 

  1. a) dzul Faraa’idh

“Yaitu ahli waris yang sudah ditentukan di dalam AI-Qur’an, yakni ahli waris hangsung yang mesti selalu mendapat bagian tetap tertentu yang tidak berubah-ubah”.3‘ Adapun rincian masing-masing ahli waris dzul faraa’idh ini dalam AI-Qur’an tertera dalam surat An­Nisaa ayat I ‘l, 12, dan 176 yang dielaborasi secara akademis oleh Th. N. )uynboll dalam bukunya Hanleiding tot de kennis van den Mohammedaansche School. Sementara itu, Komar Andasasmita, dengan mengutip buku karya )uynboll di atas, menguraikan jumlah ahli waris menurut atau berdasarkan AI-Qur’an yang terdiri atas dua belas jenis, yaitu:

1) Dalam garis ke bawah:

  1. (1) anak perempuan
  2. (2) anak perempuan dari anak laki-laki (QS. IV: 11)

 

2) Dalam garis ke atas:

  1. (1) ayah
  2. (2) ibu
  3. (3) kakek dari garis ayah
  4. (4) nenek baik dari garis ayah maupun dari garis ibu (QS. IV: 11)

3) Dalam garis ke samping:

  1. (1) Saudara perempuan yang seayah dan seibu dan gans ayah.
  2. (2) Saudara perempuan tiri (halfzuster) dari garis ayah (QS. IV: 176)
  3. (3) Saudara lelaki tiri (halfbroeder) dari garis ibu (QS. IV: 12)
  4. (4) Saudar perempuan tiri (halfzuster) dari garis ibu (QS. IV: 12)

4) 11. Duda

5) 12. Janda (QS. IV:12)

 

  1. b) Ashabah

Ashabah dalam bahasa Arab berarti “Anak lelaki dan kaum kerabat dari pihak bapak”.’z Ashabah menurut ajaran kewarisan patrilineal Sjafi’i adalah golongan ahli waris yang mendapat bagian terbuka atau bagian sisa. )adi bagian ahli waris yang terlebih dahulu dikeluarkan adalah dzul faraa’idh, yaitu bagian yang telah ditentukan di dalam AI-Qur’an, setelah itu sisanya baru diberikan kepada ashabah. Dengan demikian, apabila ada pewaris yang meninggal tidak mempunyai ahli waris dzul faraa’idh (ahli waris yang mendapat bagian tertentu), maka harta peninggalan diwarisi oleh ashabah. Akan tetapi jika ahli waris dzul faraa’idh itu ada maka sisa bagian dzul faraa’idh menjadi bagian ashabah.

  1. c) Dzul Araham

Arti kata dzul arhaam adalah “orang yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris melalui pihak wanita saja”. Hazairin dalam  bukunya Hukum Kewarisan Bilateral memberikan perincian mengenai dzul arhaam, yaitu: “semua orang yang bukan dzul iaraa’idh dan bukan ashabah, umumnya terdiri atas orang yang temasuk anggota­anggota keluarga patrilineal pihak menantu laki-laki atau anggota pihak menantu laki-laki atau anggota-anggota keluarga pihak ayah dan ibu”.

 

  1. Ahli Waris yang T idak Patut dan Tidak Berhak Mendapat Warisan

Di antara All waris ada yang tidak patut dan tidak berhak mendapat bagian waris dari pewarisnya karena beberapa penyebab, yaitu:

  1. Ahli waris yang membunuh pewaris, tidak berhak mendapat warisan dari keluarga yang dibunuhnya;
  2. Orang yang murtad tidak berhak mendapat warisan dari keluarganya yang beragama Islam, demikian pula sebaliknya;
  3. Orang kafir tidak berhak menerima warisan dari keluarga yang beragama Islam.

Orang-orang yang tergolong dalam kriteria ahli waris seperti yang disebutkan di atas, apabila ternyata telah berpura-pura dan menguasai sebagian atau seluruh harta peninggalan pewaris, maka dia berkewajiban mengembalikan seluruh harta yang dikuasainya.

“Tidak patut dan tidak berhak mendapat warisan” berbeda dengan “penghapusan hak waris” atau “hijab,” karena yang menyebabkan timbulnya dua persoalan itu pun berbeda. Hal tersebut dapat terlihat dalam tabel di bawah ini.